Kanker payudara pada pria atau male breast cancer

Menurut data The American Cancer Society, kanker payudara pada pria terdiagnosa sebanyak 1990 kasus baru setiap tahunnya, dari semua kasus kanker payudara pada pria ini, 480 kasus kanker payudara pada pria menyebabkan kematian. WHO, organisasi kesehatan dunia, memperkirakan pada tahun 2030, dua puluh persen pria akan menderita kanker payudara sebelum berumur 75 tahun, dan 16% akan meninggal karena kanker payudara pada pria. Resiko pria mengalami kanker payudara adalah satu banding seribu. Dan kurang dari satu persen kanker payudara terjadi pada pria.

Bagaimana kanker payudara terjadi pada pria? Pria tidak mempunyai payudara seperti wanita, akan tetapi pria maupun wanita sama-sama memiliki jaringan payudara, bedanya pada pria jaringan payudara tidak berkembang, sedangkan pada wanita jaringan payudara akan berkembang dan membesar, setelah wanita yang bersangkutan mengalami masa pubertas.

Male breast cancer atau Kanker payudara pada pria

Kanker payudara adalah penyakit yang sangat jarang dialami oleh pria, dari seribu kasus kanker payudara yang terjadi, hanya satu diantaranya yang terjadi pada pria, sisanya terjadi pada wanita karena jaringan payudara wanita lebih aktif ketimbang pria.

Gejala yang timbul pada pasien kanker payudara pria sangat beragam, umumnya terdapat benjolan di sekitar puting, namun biasanya tanpa disertai rasa sakit. Gejala lainnya pada pasien kanker payudara pria adalah berubahnya kulit yang membungkus payudara menjadi berkerut, kemerahan, dan bersisik, ada juga yang gejalanya keluar cairan dari puting, puting payudara masuk ke dalam, benjolan di puting, kemerahan dan bersisik di puting payudara.

Penyebab pasti timbulnya kanker payudara belum diketahui, tapi para ahli memperkirakan kanker payudara terjadi karena pembelahan sel-sel payudara lebih cepat dari normalnya, dan akhirnya menyebar bermetastasi ke jaringan di dekatnya melalui pembuluh darah dan kelenjar getah bening.

Faktor-faktor risiko kanker payudara pada pria

Faktor risiko bukan merupakan patokan pasti seorang pria akan mengalami kanker payudara, dalam beberapa kasus seseorang tetap menderita kanker payudara walaupun tidak terdapat faktor risiko yang terdeteksi dalam dirinya, sebaliknya ada juga seseorang yang terdeteksi beberapa faktor risiko kanker payudara "bersarang" dalam tubuhnya, akan tetapi ia baik-baik saja dan sehat-sehat saja, tidak timbul sedikit pun gejala maupun penyakit kanker payudara.

Lalu, mengapa kita harus mengetahui faktor risiko kanker payudara pada pria? Dengan mengetahui faktor risiko setidaknya kita bisa lebih waspada dan berhati-hati, kalau bisa menjauhi faktor risiko agar kita tidak takut,  dan dihantui oleh penyakit kanker payudara pada pria. Diantara banyak faktor risiko kanker payudara pada pria, berikut beberapa faktor risiko kanker payudara pada pria:

1. Usia. Semakin "berumur" seorang pria, risiko untuk terkena kanker payudara semakin tinggi karena risiko kanker payudara pada pria meningkat seiring dengan umur. Rata-rata seorang pria menderita penyakit kanker payudara berada pada kisaran umur 68 - 71 tahun.

2. Hormon esterogen. Jika seorang pria menggunakan hormon esterogen sebagai obat, seperti menggunakan hormon estrogen untuk prosedur ganti kelamin atau sebagai terapi hormon untuk penyakit kanker prostat, maka risiko anda untuk menderita kanker payudara pada pria meningkat.

3. Keturunan. Salah satu keluarga anda menderita kanker payudara? Keturunan merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatnya risiko kanker payudara pada pria, jika keluarga dekat anda baik pria maupun wanita ada yang menderita kanker payudara, risiko anda mengidap kanker payudara di masa depan akan menjadi dua kali lebih besar.

4. Klinefelter's syndrome. Sindrom klinefelter merupakan sebuah genetik sindrom, klinefelter's syndrom adalah genetik sindrom yang terjadi ketika seorang anak laki-laki terlahir dengan lebih dari satu copi kromosom X. Klinefelter's syndrome menyebabkan anak laki-laki mengalami kelainan pertumbuhan testis, sindrom klinefelter berefek pada sedikitnya produksi hormon androgen dan memproduksi banyak hormon esterogen. Sindrom klinefelter meningkat risiko seorang laki-laki menderita kanker payudara pada pria.

5. Penyakit liver. Jenis penyakit liver, sirosis hati (Cirrhosis of the liver) menyebabkan menurunnya produksi hormon laki-laki (Androgen) dan meningkatkan produksi hormon wanita (Esterogen). Hal ini menyebabkan peningkatan risiko kanker payudara pada pria.

6. Obesitas. Kelebihan berat badan menimbulkan tubuh menjadi berlemak, sel-sel lemak mengubah hormon androgen menjadi hormon esterogen. Hormon esterogen memicu peningkatan risiko pria menderita penyakit kanker payudara.

7. Radiasi. Pada kondisi tertentu anda mungkin berinteraksi langsung dengan radiasi, seperti anda melakukan terapi radiasi atau radioterapi di bagian dada, radiasi yang terpapar langsung ke daerah dada meningkatkan risiko menderita kanker payudara dan menyebab kanker payudara pada pria di kemudian hari.

8. Testis. Penderita radang testis (Orchitis) maupun operasi untuk mengangkatan testis (Orchiectomy) menyebabkan produksi hormon androgen menurun dan meningkatkan hormon estrogen. Hormon esterogen merupakan pemicu kanker yang baik termasuk meningkatkan risiko kanker payudara pada pria.

9. Gen BRCA. Perubahan gen BRCA1 dan gen BRCA2 merupakan salah satu faktor risiko kanker payudara pada pria. Seseorang disebut sebagai "Carrier BRCA" atau "Pembawa gen mutan BRCA" apabila mereka mewarisi satu gen BRCA rusak dari salah satu orang tua, dan mewarisi gen BRCA sehat dari orang tua yang lain. Mutasi gen BRCA menyebabkan kanker payudara dan kanker ovarium, sekaligus meningkatkan risiko kanker payudara pada pria.

10. Alkohol. Mengkomsumsi alkohol secara tidak langsung meningkatkan kadar esterogen di dalam tubuh, alkohol juga menghasilkan zat karsinogen dalam tubuh, zat karsinogen ini menyebabkan mutasi gen dan perubahan struktur DNA. Hal ini yang menjadi penyebab alkohol bisa meningkatkan resiko kanker payudara pada pria.

Reference:
•Wikipedia.org/wiki/Male_breast_cancer
•The American Cancer Society
•Mayo Clinic

Subscribe to receive free email updates: