10 mitos seputar penyebab kanker dan kesalahpahaman tentang kanker

10 mitos seputar penyebab kanker dan kesalahpahaman tentang kanker

Bagaimana kanker sebenarnya bisa tumbuh? faktor-faktor apa yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kanker? Mitos atau informasi yang belum pasti kebenarannya sering beredar di sekeliling kita, biasanya, mitos adalah asumsi masyarakat yang belum melewati penelitian oleh scientis sebagai ahli. Mitos ini bisa saja memiliki kebenaran, bisa juga sebaliknya tidak memiliki kebenaran, bahkan bisa saja mitos memiliki teori yang berlawanan dengan fakta aslinya.

Mitos yang berlawanan dengan fakta-aslinya menyebabkan kesalahpahaman diantara masyarakat, untuk mengatasi hal tersebut, para peneliti melakukan serangkaian penelitian untuk membuktikan kebenaran informasi yang beredar, apakah itu hanya sekedar mitos yang menyebabkan kesalahpahaman, atau itu sebenarnya merupakan teori yang benar, namun belum ada bukti yang mengiringi teori tersebut.
kesalahpahaman tentang kanker
Mitos Kanker
Diantara sekian banyak mitos yang beredar di masyarakat, berikut beberapa mitos penyebab kanker dan kesalahpahaman tentang kanker yang timbul karena teori yang beredar di masyarakat (mitos) ternyata berlawanan dengan fakta-aslinya.

Mitos: Gula membuat kanker lebih parah.
Fakta: Penelitian menunjukkan bahwa sel-sel kanker mengkonsumsi gula (glukosa) lebih banyak dari pada sel-sel tubuh normal. Hal ini bukan berarti bahwa mengkonsumsi banyak gula menyebabkan kanker semakin parah, dan tidak/ mengurangi konsumsi gula menyebabkan sel-sel kanker menjadi tidak memperoleh makanan.

Akan tetapi, konsumsi gula yang berlebihan akan menyebabkan obesitas, nah! obesitas inilah yang menyebabkan faktor risiko terserang kanker menjadi meningkat. Pada beberapa jenis kanker obesitas sangat krusial meningkatkan risiko serangan kanker, obesitas memicu produksi hormon esterogen dan menurunkan produksi hormon testosteron, ketidakseimbangan hormon-hormon ini menyebabkan risiko kanker menjadi meningkat terutama kanker payudara yang memang berkaitan.

Jadi, komsumsi gula TIDAK membuat kanker lebih parah, akan tetapi obesitas (kelebihan berat badan) lah yang memicu meningkatkan faktor risiko terserang kanker menjadi meningkat, bukan mengkonsusi gulanya.

Mitos: Pemanis buatan merupakan salah satu pemicu kanker.
Fakta: Pemanis buatan seperti saccharin, aspartame, cyclamate, dan lainnya berguna untuk memberikan rasa manis pada makanan serta minuman dan sebagai pengganti gula, karena rasa manis yang dihasilkan oleh pemanis buatan (artificial sweetener) lebih kuat daripada rasa manis yang diperoleh dari gula, sehingga jika kita menggunakan pemanis buatan, kalori yang di peroleh akan lebih kecil daripada menggunakan gula biasa.

Memang study menemukan bahwa pemanis buatan menyebabkan kanker kandung kemih, akan tetapi hasil penelitian tersebut ditemukan pada tikus, akibat dari percobaan yang dilakukan di dalam laboratorium. Setelah dilakukan percobaan ulang dan meneliti zat-zat karsinogenik pada pemanis buatan, disimpulkan bahwa tidak ada bukti yang cukup jelas keterkaitan antara pemanis buatan dengan kanker pada manusia, dan pengguna pemanis buatan dinyatakan aman, bila dalam prakteknya digunakan secara wajar dan sesuai dosis yang dianjurkan.

Mitos: Apakah ponsel menyebabkan kanker?
Fakta: Telepon genggam atau ponsel adalah alat komunikasi portable yang menggunakan frekuensi rendah untuk menerima dan mengirim data. Penguna ponsel dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup drastis, hal ini menyebabkan kekawatiran radiasi yang dipancarkan oleh ponsel akan mempengaruhi kesehatan bahkan menyebabkan kanker, penggunaan ponsel yang dekat sekali dengan otak ketika melakukan panggilan telepon, dikawatirkan radiasi yang dipacarkan oleh ponsel, bisa mempengaruhi jaringan otak, dan pada akhirnya menyebabkan kanker otak dan/atau tumor otak.

Benarkah radiasi ponsel menyebabkan kanker? Radiasi bisa menyebabkan kanker, apabila radiasi yang terpancar bisa memutasi genetik. Dalam kasus ponsel, radiasi yang terpancar sangat kecil, hanya berkisar antara 450 - 2.700 MHz, dengan kekuatan puncak 0,1 - 5 watt. Dengan kekuatan radiasi yang kecil tersebut, kecil sekali kemungkinannya bis memutasi gen dalam jaringan tubuh. Dengan kata lain, radiasi ponsel TIDAK menyebabkan kanker.

Mitos: Deodoran memicu tumbuhnya kanker payudara.
Fakta: Antipespirant, bisa juga disebut deodoran merupakan sebuah kosmetik yang beguna mencegah serta menyamarkan bau badan terutama pada bagian ketiak, karena pengaplikasiannya memang pada bagian tubuh di bawah lengan tersebut.

Menurut National Cancer Institute, tidak ada bukti yang kuat, deodorant menyebabkan kanker, terutama kanker payudara. Memang kandungan dari deodorant sendiri merupakan bahan kimia yang mungkin bisa menyebabkab kanker, akan tetapi suatu produk akan diuji terlebih dahulu sebelum beredar, National Cancer Institute (NCI) bersama US Food and Drug Administration (FDA) tidak menemukan zat berbahaya terkandung dalam deodorant.

Mitos: Pewarna rambut menyebabkan tumor otak.
Fakta: Pewarna rambut merupakan suatu bahan yang dapat mengubah warna rambut baik permanen, semi-permanen, maupun temporary. Biasanya bahan yang digunakan sebagai pewarna rambut adalah zat kimia tertentu, bahan kimia ini mungkin saja bersifat karsinogenik/ menyebabkan kanker, nah! disinilah keluar anggapa bahwa pewarna rambut menyebabkan kanker.

Pada penggunaan personal zat kimia yang terkandung dalam pewarna rambut tidak terlalu berefek pada kesehatan, apalagi menyebabkan kanker. Akan tetapi, jika anda seorang penata rambut atau tukang cukur dan sering terpapar bahan kimia pada pewarna rambut dan produk kosmetik lainnya, risiko akan terserang kanker bisa saja meningkat.

Mitos: Apakah kanker menular?
Fakta: Sebenarnya kanker tidak menular, akan tetapi pada kondisi tertentu kanker bisa saja menular langsung (tanpa perantara) dari satu individu ke individu lainnya. Kanker bisa menular langsung, apabila antar individu ini melakukan transplantasi jaringan dan/atau transplantasi organ. Seseorang yang menerima jaringan/ organ dari pendonor yang mempunyai riwayat kanker dalam hidupnya, berrisiko tertular kanker dari organ pendonor, dan akhirnya risiko menderita kanker dimasa depan menadi meningkat.

Kanker sendiri tidak menular, bakteri dan virus yang menyebabkan kanker lah yang bisa menular antar individu. Virus yang sering menyebabkan kanker adalah HPV (Human Pappiloma Virus), terdapat berbagai tipe virus HPV, namun yang diketahui sering menyebabkan kanker, tipe 16 dan HPV tipe 18. Sedangkan, untuk bakteri yang menyebabkan kanker, Helicobacter pylori yang bisa menular dan menyebabkan kanker perut.

Jadi, kanker tidak menular, tapi virus dan bakteri penyebab kanker bisa menular dari satu individu ke individu lainnya. 

Mitos: Jika di dalam keluarga terdapat penderita kanker, apakah saya juga akan menderita kanker?
Fakta: Penyebab utama kanker berasal dari mutasi gen, hanya sekitar 5 - 10 persen yang berasal dari faktor genetik (keturunan). Mutasi gen bisa terjadi pada seseorang karena faktor lingkungan, gaya hidup, dan faktor usia, persentase untuk kanker yang disebabkan oleh mutasi gen berkisar antara 90 -95 persen.

Mitos: Tidak ada seorang pun dalam keluarga menderita kanker, berarti saya tidak akan menrasakan kanker.
Fakta: Faktor genetik (keturunan) hanya menyumbang beberapa persen saja, paling banter hanya menyumbang 10 persen saja, penyebab yang paling dominan tumbuh dan berkembangnya kanker adalah mutasi gen. Mutasi gen bisa terjadi karena berbagai faktor seperti, lingkungan berpolusi, gaya hidup tidak sehat, sampai bertambahnya umur ikut andil dalam bermutasinya gen dalam tubuh.

Jadi, walapun anggota keluarga tidak satu pun yang pernah menderita kanker, anda tetap memiliki risiko jika salah satu faktor yang menyebabkan mutasi gen lekat dengan kehidupan anda.

Mitos: Ternyata, obat herbal bisa menyembuhkan kanker
Fakta: Obat herbal adalah obat-obat yang murni berasal dari alam dan tidak mengandung bahan campuran kimia sintetis. Bahan alam yang bisa digunakan bisa berasal dari tumbuhan maupun hewan, akan tetapi kebanyakan obat herbal berasal dari tumbuh-tumbuhan saja.

Menurut study, obat herbal kurang efektif mengobati kanker, akan tetapi dokter juga tidak melarang penggunaannya dalam pengobatan kanker karena obat herbal terbukti dapat mengurangi side effect yang ditimbulkan oleh pengobatan kanker seperti kemoterapi. Tetapi perlu digaris bawahi, obat herbal tertentu bahkan bisa menimbulkan bahaya bila dikombinasikan dengan kemoterapi ataupun terapi radiasi. Oleh karena itu, selalu konsultasikan penggunaan obat-obatan diluar resep dokter.

Mitos: Biopsi dan operasi kanker menyebabkan sel kanker cepat menyebar.
Fakta: Kemungkinan sel-sel kanker akan menyebar ke jaringan tubuh lain, selama proses biopsi dan operasi kanker tetap ada, walaupun itu kecil sekali. Dokter sangat berhati-hati sekali dan menggunakan metode khusus agar penyebaran sel-sel kanker saat proses biopsi dan operasi pengangkatan tumor bisa di minimalisir. Penggunaan alat yang steril dan penerapan metode operasi yang benar bisa meminimalkan penyebaran sel kanker ke jaringan lain.

Sources:
• National Cancer Institute. Common cancer myths and misconceptions. Accessed on Nov 24, 2015: http://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/myths
Mayoclinic. Cancer cause: Popular myths about causes cancer. Accessed on Nov 24, 2015: http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cancer/in-depth/cancer-causes/art-20044714
Read More
Mitos dan fakta beberapa jenis penyakit kanker yang umum terjadi

Mitos dan fakta beberapa jenis penyakit kanker yang umum terjadi

Banyak sekali mitos-mitos tentang kanker yang beredar dan membingungkan, karena mitos-mitos tersebut seringkali bertolak belakang satu dengan yang lainnya, serta kebenaran informasi yang terkandung di dalamnya cukup meragukan. Tidak adanya sumber yang jelas, membuat informasi yang terkandung di dalam mitos tersebut, tidak bisa dikorfirmasikan langsung kepada narasumbernya. Terkadang malahan kita sebagai orang awam, merasa bingung akan informasi yang ada, apakah ini fakta atau hanya sekedar mitos kanker saja.

Banyaknya sumber informasi seperti media cetak, koran, majalah, media elektronik, televisi, radio, dan internet, membuat informasi yang datang menjadi semakin banyak dan beragam. Hal ini memiliki sisi positif sekaligus negatif. Negatifnya, bila informasi yang disampaikan ternyata bertentangan antara media-A dan media-B, membuat kita sebagai konsumen malah meng-acuh-kan kedua informasi yang disampaikan, padahal mungkin kedua informasi tersebut valid, namun karena telah dilakukan penelitian yang baru, membuat informasi yang tadinya merupakan fakta kanker menjadi mitos kanker karena telah terbantah kevalid-annya dan menjadi tidak relevan lagi.

Berikut beberapa mitos kanker dan fakta yang meluruskaaya, menurut sumber dan penelitian ter-anyar, serta dikelompokkan menurut jenis kanker:

Kanker payudara

Mitos #1: Kanker payudara hanya terjadi pada wanita saja.
Fakta: Payudara adalah organ tubuh yang terletak di bagian dada atau atas dada mammalia, termasuk manusia. Baik wanita atapun pria, sama memiliki payudara. Bedanya, pada pria, payudara tidak berkembang dan tidak menghasilkan susu. Namun, payudara wanita berkembang dan membesar setelah dimulainya masa menstruasi dan payudara wanita bisa memproduksi ASI, setelah wanita melahirkan seorang bayi.

Karena wanita dan pria sama-sama memiliki payudara, maka keduanya pun memiliki risiko dan bisa terkena kanker payudara. Namun,kanker payudara jarang sekali terjadi pada pria, presentasenya hanya 1 persen kanker payudara pada pria dan 99 persen kanker payudara terjadi pada wanita.

Mitos #2: Bra yang memiliki rangka kawat dapat menyebabkan kanker payudara.
Fakta: Beha dengan rangka kawat dapat mengganggu aliran saluran limfatik, sehingga racun akan menumpuk di area payudara, hal ini menyebabkan seseorang yang menggunakan bra dengan rangka kawat ber-risiko mengidap kanker payudara.

Akan tetapi teori diatas telah "kadaluarsa" oleh penelitian terbaru yang mengungkapkan bahwa penggunaan bra dan/atau pakaian dalam lainnya tidak memperbesar risiko seseorang terkena kanker payudara.

Mitos #3: Seseorang dengan payudara kecil, memiliki risiko yang lebih rendah mengidap kanker payudara.
Fakta: Tidak ada korelasi antara ukuran, kepadatan, dan volume payudara terhadap risiko seseorang terserang kanker payudara. Namun, seseorang yang memiliki ukuran, volume, dan kepadatan payudara yang besar, lebih sulit mendeteksi sel kanker di dalam payudaranya, dibandingkan seseorang yang memiliki ukuran payudarah kecil.

Mitos #4: Penggunaan mammograms secara rutin, dapat meningkatkan risiko terserang kanker payudara.
Fakta: Mammograms adalah sebuah alat yang digunakan untuk membantu memantau serta memeriksa jaringan payudara menggunakan X-ray dosis rendah. Mammograms bekerja dengan cara menghasilkan x-ray, lalu x-ray tersebut di lewatkan pada area payudara atau dada, kemudian bagian lain dari mammograms akan menangkap kembali sinar x-ray dan akhirnya tangkapan x-ray tersebut akan menghasilkan gambar.

Namun 10 persen kasus kanker payudara tidak bisa terdeteksi dengan mammograms, hal itu disebabkan oleh jaringan payudara (yang tebal) sehingga sel-sel kanker di dalamnya tidak bisa terlihat dan terdeteksi. Akan tetapi mammograms tetap terbukti mengurangi kematian karena kanker payudara, dengan cara mendeteksi sel-sel abnormal pada payudara sejak dini, sehingga perawatan dan pengobatan kanker payudara bisa dilakukan, walaupun sel-sel kanker yang tumbuh belum menimbulkan gejala.

Jadi, pengguna mammograms ada plus-minusnya, asalkan kita menggunakan secara bijak, mammograms bisa mendeteksi kanker payudara sejak dini tanpa efek radiasi yang justru memperburuk kondisi kesehatan.

Mitos #5: Deodoran merupakan salah satu penyebab kanker payudara.
Fakta: Antiprespirant atau disebut juga deodoran adalah sebuah benda yang mempunyai fungsi mencegah dan menyamarkan bau badan yang kurang sedap di area ketiak. Biasanya deodoran terbuat dari kombinasi antara alkohol dan bahan kimia yang memmiliki bau wangi dan sedap. Bahan penyusun deodoran inilah yang disangkut-pautkan dengan faktor risiko meningkatnya kanker payudara, karena bahan kimia yang terkandung dalam deodoran bisa masuk ke dalam tubuh dan memicu terjadi kanker payudara.

Namun, teori ini tidak terbukti setelah National Cancer Institute (NCI) melakukan penelitian dan tidak menemukan hubungan antara penggunaan deodoran dengan meningkatnya risiko seseorang terkena kanker payudara.

Kanker serviks

Mitos #1: Kanker serviks tidak bisa dicegah, karena pada tahap awal kanker serviks tidak menimbulkan gejala.
Fakta: Kanker serviks adalah kanker yang tumbuh dan berkembang di leher rahim wanita. Infeksi virus HPV, menjadi penyebab utama tumbuh dan berkembangnya kanker serviks. HPV merupakan virus yang menular melalui kulit ke kulit, seseorang akan tertular HPV dari pasangannya setelah berhubungan seks (Intercouse, Oral, atau sentuhan kulit tangan dan kulit kelamin). Tipe HPV 16 dan tipe 18, 70 persen menyebabkan kanker serviks.

Pencegahan infeksi HPV bisa drastis mengurangi risiko wanita menderita kanker serviks, infeksi HPV berkembang sangat lambat sampai menjadi kanker serviks, kira-kira waktu yang dibutuhkan antara 15 sampai 20 tahun. Sebelum menjadi kanker serviks, infeksi HPV terlebih dahulu menimbulkan lesi pra-kanker, jika pada tahap 'lesi pra-kanker' infeksi HPV bisa diketahui, pengobatan dan perawatan akan jauh lebih mudah dilakukan, sayangnya pada tahap ini 'lesi pra-kanker' infeksi yang terjadi tidak menimbulkan geala sama sekali. Untuk dapat mendeteksi lesi pra-kanker, seseorang harus rutin melakukan pap smear atau screening kanker serviks, sedangkan untuk mencegah terinfeksi HPV, seorang wanita harus melakukan vaksinasi HPV, Gardasil.

Jadi, kanker serviks bisa dicegah dengan deteksi dini dengan pap smear atau screening kanker serviks dan mencegah infeksi HPV dengan vaksinasi HPV (Gardasil).

Mitos #2: Jika saat screening kanker serviks terdapat infeksi HPV, itu tanda bahwa anda terserang kanker serviks.
Fakta: Virus HPV memiliki lebih dari 100 jenis, hanya tipe 16 dan tipe 18 yang diketahui 70 persen menyebab kanker serviks, sedangkan jenis yang lainnya hanya menyebabkan kutil di area kelamin yang tidak bersifat kanker. Dan tidak setiap infeksi HPV sudah menjadi kanker servik, dibutuhkan waktu yang cukup lama antara 15 sampai 20 tahun, proses infeksi HPV menjadi kanker serviks.

Jadi, jika saat screening kanker serviks terdapat infeksi HPV, itu BUKAN merupakan tanda adanya kanker serviks, akan tetapi ditemukan sel-sel serviks yang abnormal dan mungkin akan menjadi kanker serviks di masa yang akan datang, jika tidak dilakukan perawatan dan pengobatan.

Mitos #3: Kondom bisa mencegah 100 persen dari kanker serviks.
Fakta: Memang kondom bisa mengurangi penularan virus HPV, akan tetapi kondom tidak bisa 100 persen melindungi dari penularan virus HPV, karena kondom hanya bisa melindungi sebagian kulit kelamin, HPV bisa tumbuh dan berkembang di mana saja, sehingga sentuhan antar kulit yang tidak tertutupi oleh kondom, tetap bisa menularkan HPV kepada pasangan.

Mitos #4: Jika sudah melakukan vaksinasi HPV, tidak perlu lagi mengikuti pap smear.
Fakta: Vaksinasinasi HPV seperti gardasil hanya melindungi dari virus HPV tipe tertentu saja, sedangkan HPV memiliki lebih dari 100 jenis, dan ada tipe lain selain HPV tipe 16 dan tipe 18 yang menyebabkan kanker serviks. Sehingga kita tetap perlu melakukan pemeriksaan pap smear untuk mendeteksi sel serviks abnormal yang berpotensi menyebabkan kanker serviks.

Mitos #5: Keluarga saya tidak ada yang mengidap kanker serviks, jadi saya tidak akan terserang kanker serviks.
Fakta: Faktor keturunan tidak berpengaruh banyak dalam kanker serviks, bahkan tidak berpengaruh sama sekali. Infeksi Human pappiloma virus (HPV) yang paling dominan menyebabkan kanker serviks, HPV menular saat berhubungan intim dengan pasangan, kontak langsung antara kulit kelamin dapat menyebabkan virus HPV bisa menginfeksi ke pasangan dan akhirnya menyebabkan kanker serviks.

Kanker prostat

Mitos #1: Hanya seseorang yang sudah "tua" yang dapat terserang kanker prostat.
Fakta: Kebanyakan kanker prostat terjadi pada pria dengan usia lebih dari 50 tahun, akan tetapi karena perkembangannya yang lambat serta tidak menimbulkan gejala sama sekali pada tahap awal menyebabkan kanker prostat umumnya baru terdiagnosa pada usia antara 70 - 74 tahun. Dengan kata lain, kanker prostat sangat jarang terjadi pada pria dengan usia di bawah 50 tahun.

Jadi, kanker prostat umumnya "baru" tumbuh dan berkembang pada pria dengan usia lebih dari 50 tahun, namun tidak menutup kemungkinan pria dengan usia yang lebih muda dapat terdiagnosa kanker prostat, jika kanker prostat yang "menghinggapi" termasuk kanker prostat ganas yang pertumbuhan dan perkembangannya cepat.

Mitos #2: Kanker prostat merupakan penyakit menular.
Fakta: Kanker prostat merupakan penyakit kanker yang terjadi karena mutasi genetik, perubahan gen yang terjadi bukan hanya disebabkan oleh bawaan dari lahir (keturunan), akan tetapi lingkungan dan gaya hidup seseorang bahkan lebih dominan mempengaruhi perubahan gen seseorang.

Jadi, kanker prostat bukan disebabkan oleh virus atau bakteri yang bisa menyebar, sehingga kanker prostat BUKAN merupakan penyakit menular.

Mitos #3: Semua kanker prostate harus diobati sampai tuntas.
Fakta: Umumnya kanker prostat tumbuh dan berkembang sangat lambat serta tidak memunculkan gejala pada tahap awal, bahkan tidak menimbulkan gangguan kesehatan apapun, walaupun pada prostat seorang pria terdapat sel-sel kanker prostat.

Karena semua fakta ini, kanker prostat bisa diabaikan pengobatannya, namun hanya dipantau berkembangannya, jika anda terlalu "berumur" dan berrisiko tinggi jika dilakukan pengobatan kanker prostat atapun jika anda mempunyai penyakit lain yang tidak mungkin dilakukan pengobatan kanker.

Mitos #4: Onani dapat meningkat risiko terserang kanker prostat.
Fakta: Sering ejakulasi dan melakukan aktivitas seksual dapat meningkat risiko kanker prostat mungkin hanyalah mitos saja, sebab dalam penelitian yang lainnya, justru seseorang yang lebih sering ejakulasi memilki risiko yang lebih rendah terserang kanker prostat.

Mitos #5: Kanker prostat akan membunuh setiap penderitanya.
Fakta: Tidak semua kanker prostat tumbuh dan berkembang dengan cepat, akan tetapi jenis kanker kebanyakan tumbuh dan berkembang sangat lambat. Bahkan, seseorang tidak mengalami gangguan kesehatan apapun walaupun di dalam prostatnya terdapat sel-sel kanker prostat.

Memang beberapa pasien kanker prostat akhirnya meninggal dunia, akan tetapi mereka meninggal bukan seratus persen disebabkan oleh kanker prostat, kebanyakan kanker prostat baru terdeteksi pada usia diatas 50 tahun, dan yang menyebabkan seorang pasien kanker meninggal bukan karena kanker prostatnya, karena faktor usia dan penyakit lain yang dideritalah yang lebih dominan yang menyebabkan seorang pasien kanker prostat meninggal dunia.

Kanker darah

Mitos #1: Leukemia adalah satu-satunya kanker darah pada manusia.
Fakta: Kanker darah adalah jenis kanker yang tumbuh dan berkembang pada darah dan sumsum tulang belakang. Sedangkan leukemia lebih spesifik yaitu kanker yang terjadi pada darah dan sumsum tulang belakang, yang umumnya menyerang atau terjadi kelainan pada darah putih atau leukosit. Leukemia sendiri merupakan gabungan dari dua kata bahasa yunani, leukos "putih" dan aima "darah".

Sebenarnya ada tiga macam kanker darah, pertama, leukemia yang mengganggu kinerja sel darah putih, kedua, lymphoma, yaitu jenis kanker darah yang menyerang sistem limfatik dan yang ketiga, myeloma adalah jenis kanker darah yang berpengaruh buruk pada sel plasma dalam darah.

Mitos #2: Kanker darah hanya bisa diderita oleh orang yang sudah dewasa.
Fakta: Kanker darah merupakan jenis kanker yang tidak mengenal usia, terutama leukemia dari anak-anak remaja, sampai dewasa bahkan lanjut usia semua berisiko menderita kanker darah (leukemia).

Kanker otak

Mitos #1: Kanker otak dan tumor otak adalah dua hal yang berbeda.
Fakta: Kanker adalah pertumbuhan sel yang tidak terkendali sehingga akan mengganggu sel dan jaringan didekatnya dan kanker mempunyai kemungkinan besar untuk menyebar ke jaringan tubuh lainya. Sedangkan, tumor adalah pertumbuhan dan perkembangan sel yang melebihi batas normal dan tidak terkendali dan tidak menyebar ke jaringan tubuh lainnya.

Tumor dan kanker sebenarnya dua hal yang berbeda, akan tetapi para ahli medis lebih sering menggunakan istilah "tumor otak" ketimbang "kanker otak" karena gejala dan tanda yang muncul sekilas sama.

Mitos #2: Radiasi ponsel dapat memicu tumbuhnya kanker otak.
Fakta: Ponsel/ telepon genggam merupakan perangkat radio bertenaga kecil yang mengirim dan menerima radiasi gelombang radio. Dalam penggunaannya, ponsel sangat sering digunakan sehari-hari dan bisanya kita menggunakannya sangat dekat dengan otak, ketika kita menerima panggilan telepon.

Radiasi seperti x-ray ataupun sinar gamma diketahui menyebabkan kanker, mutasi genetik, dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Akan tetapi semua radiasi itu akan berbahaya apabila memilki frekuensi cukup tinggi, tapi, pada ponsel radiasi atau gelombang yang digunakan hanyalah memiliki frekuensi yang rendah, antara 450 - 2.700 MHz.

Jadi, ponsel tidak sepenuhnya dapat memicu kanker, jika dalam penggunaannya kita menggunakannya secara wajar. Peleliti belom bisa menemukan bukti yang pasti tentang hubungan risiko kanker otak dan ponsel.

Mitos #3: Semua tumor otak memiliki gejala dan tanda yang sama.
Fakta: Setiap orang yang terdiagnosa kanker otak (tumor otak) memiliki gejala yang berbeda-beda, gejalanya pun terkadang timbul sangat parah pada orang tertentu, tapi tidak timbul gejala samasekali pada orang lain. Gejala yang umum terjadi pada pasien kanker otak antara lain, pusing, mual dan muntah, penglihatan menjadi blur dan/atau ganda, gangguan pendengaran, kelemahan otot (lumpuh), gangguan keseimbangan, dan lainnya tergantung letak dan jenis tumor yang berkembang.

Mitos #4: Kanker otak adalah jenis kanker yang jarang terjadi.
Fakta: Kanker otak menjadi jenis kanker terbanyak menyebabkan kematian pada anak-anak dibawah usia 20 tahun, dan nomor ketiga penyebab kematian akibat kanker pada dewasa antara 20-39 tahun.

Mitos #5: Pewarna rambut menyebabkan kanker otak.
Fakta: Memang pewarna rambut mengandung zat kimia karsinogenik yang memicu terjadinya kanker, akan tetapi hal ini tidak berefek langsung terhadap risiko terserang kanker otak dan para peneliti belum menemukan bukti yang valid tentang hubungan antara pewarna rambut dan kanker otak.

Sources:
Kanker payudara
• http://www.vemale.com/topik/kanker-payudara/mitos-seputar-kanker-payudara/
• http://meetdoctor.com/mobile/article/mitos-dan-fakta-kanker-payudara
Kanker serviks
• http://www.cancer.med.umich.edu/news/cervical_myths07.shtml
• http://www.alodokter.com/mitos-seputar-kanker-serviks
Kanker prostat
• http://prostatecanceruk.org/about-us/news-and-views/2014/10/the-manual-busting-prostate-cancer-myths#
• http://www.webmd.com/prostate-cancer/prostate-cancer-myths-facts
Kanker darah 
• http://www.alodokter.com/kanker-darah
Kanker otak
• http://www.braintumour.ca/4551/myths-about-brain-tumours
• https://www.cancerwa.asn.au/resources/cancermyths/mobile-phones-myth/
Read More
Human Pappiloma Virus (HPV) sebagai penyebab utama kanker serviks

Human Pappiloma Virus (HPV) sebagai penyebab utama kanker serviks

Menurut WHO, organisasi kesehatan dunia, kanker serviks setiap tahunnya menyebabkan kematian sekitar 270.000 jiwa. Pada tahun 2012 saja, terdapat sekitar 530.000 kasus baru kanker serviks dan angka tersebut merupakan 7,5% dari semua kanker yang terjadi pada wanita.

Kanker serviks merupakan jenis kanker yang hanya terjadi pada wanita, kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada organ leher rahim wanita, antara rahim dan vagina terdapat saluran, ya itulah yang dinamakan leher rahim bisa disebut juga serviks. Jadi, leher rahim merupakan saluran penghubung antara rahim dan vagina, fungsi leher rahim adalah sebagai jalan masuk ke dalam rahim dari vagina atau dari arah luar.

Kanker serviks 99,7 % disebabkan oleh Human Papillomavirus (HPV) dan sangat jarang sekali kanker serviks yang terjadi karena sebab lain, termasuk keturunan dari orang tua (genetis). Oleh karena itu HPV dinobatkan sebagai penyebab utama kanker serviks, HPV merupakan virus yang umum menginfeksi saluran reproduksi, baik pria maupun wanita semuanya dapat terinfeksi HPV, biasanya virus ini menyebabkan kutil kelamin, bila area yang terinfeksi di sekitar kelamin. Selain itu, HPV juga bisa menyebabkan kutil di area lain seperti kaki, tangan, dan organ tubuh lainnya.

HPV sebagai penyebab utama kanker serviks

Human Pappilomavirus atau HPV adalah jenis virus yang berhubungan langsung dengan infeksi kelamin yang disebabkan oleh virus, jika seseorang aktif secara seksual, berada di usia produktif, dan memiliki pasangan, infeksi HPV sangat rentan sekali terjadi. Pasalnya, infeksi HPV bisa terjadi melalui kontak langsung kulit dengan kulit. Seseorang yang aktif secara seksual biasanya terinfeksi HPV setelah berhubungan dengan pasangan, kontak langsung kulit kelamin dengan pasangan menyebabkan virus HPV bisa bertransmisi ke tubuh kita, kemudian meng-infeksi.

Sangat banyak sekali tipe virus HPV, namun tidak semua virus HPV menyebabkan kanker serviks, hanya HPV tipe 16 dan 18 yang diketahui sangat sering menyebabkan kanker serviks. Kebanyakan HPV tidak menyebabkan kanker serviks, tipe HPV ini biasanya hanya menyebabkan kutil kelamin.

Gejala infeksi HPV

Pada tahap awal, infeksi HPV tidak menimbulkan gejala sama sekali. Infeksi HPV akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk menangkal virus HPV, dan mencegah HPV meng-infeksi tubuh lebih lanjut, hal ini menyebabkan gejala yang akan ditimbulkan oleh infeksi HPV bisa diatasi oleh tubuh. Biasanya infeksi HPV akan menghilang sendiri tanpa dilakukan treatmen khusus dalam beberapa minggu saja dan akan sembuh 90% dari infeksi HPV sekitar dua tahun setelah pertama kali terinfeksi HPV.

Akan tetapi, bila yang melakukan infeksi adalah HPV tipe 16 dan/atau tipe 18 yang beraffiliasi langsung menyebabkan kanker serviks, maka kekebalan tubuh tidak mampu menangkalnya, dan HPV tipe 16 dan 18 akan menyebabkan lesi prakanker, bila lesi yang terjadi tidak diatasi dengan tepat dan benar, lesi ini memiliki potensi menjadi kanker serviks di masa depan.

Walaupun HPV tipe 16 dan tipe 18 menimbulkan lesi, namun lesi-lesi tersebut tidak "mengeluarkan" gejala sama sekali pada tahap awal, infeksi HPV baru akan menimbulkan gejala, bila telah mencapai tahap lanjut. Proses perkembangan infeksi HPV dari tahap awal sampai tahap lanjut memerlukan waktu yang cukup lama antara 15 sampai 20 tahun, seharusnya kita bisa melakukan tindakan preventif agar infeksi HPV tidak berkembang menjadi kanker serviks,  dengan rutin melakukan sreening kanker serviks setidaknya satu tahun sekali.

Namun apabila infeksi HPV sudah mencapai tahap lanjut, infeksi tersebut baru akan menimbulkan gejala, biasanya gejala yang timbul apabila infeksi HPV telah mencapai tahap lanjut antara lain:

1. Pendarahan di luar masa menstruasi atau setelah masa menopause, dan keluarnya darah setelah berhubungan intim dengan pasangan.
2. Terasa nyeri di tubuh terutama pada kaki, punggung, dan pinggul.
3. Pusing di kepala, penurunan berat badan tanpa sebab yang pasti, dan menurunya nafsu makan.
4. Salah satu kaki tiba bengkak tanpa sebab.
5. Tidak nyaman pada area vagina dan keputihan yang abnormal.

Risiko infeksi HPV

Sebagian infeksi HPV tidak menimbulkan masalah yang berarti, karena banyak infeksi yang terjadi bisa menghilang dan sembuh dengan sendirinya, termasuk lesi prakanker yang disebabkan oleh hpv tipe 16 dan 18. Oleh karena itu, kita selalu menjalankan pola hidup sehat, olahraga teratur, dan hindari rokok maupun alkohol, supaya kekebalan tubuh selalu prima dan sanggup memberantas dan melindungi tubuh kita dari infeksi virus maupun bakteri.

Terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko terinfeksi HPV antara lain:

1. Berhubungan seksual terlalu dini. Virus HPV menyebar salah satunya melalui kontak langsung kulit dengan kulit, jika anda melakukan hubungan seksual pada usia dini, risiko anda tertular infeksi HPV dari pasangan akan meningkat dua kali lebih besar.

2. Sering berganti pasangan. HPV tidak hanya menginfeksi wanita saja, akan tetapi HPV bisa menginfeksi emua gender. Dengan terlalu sering berganti pasangan, kemungkinan anda berhubungan seksual dengan pasangan penderita infeksi HPV  menjadi semakin besar.

3. Kebersihan organ intim. Lingkungan yang lembab adalah tempat yang nyaman bagi bakteri maupun virus, jika anda kurang memperhatikan kebersihan organ intim, sekitar organ dan dalam organ intim akan semakin lembab serta akan mempersubur perkembangan virus dan bakteri. Sehingga risiko terinfeksi HPV akan semakin besar.

4. Usia. Seseorang yang berumur lebih dari 40 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi terinfeksi HPV, kekebalan tubuh yang semakin menurun serta ketidak-stabilan hormon menjelang menopause menadi sebab mengapa seseorang berumur lebih dari sama dengan 40 tahun sangat rentan terhadap kanker serviks dan terinfeksi HPV.

5. Lemahnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HPV bisa saja hilang dan sembuh dengan sendirinya karena perlawanan kekebalan tubuh kita, jika sistem kekebalan tubuh lemah maka infeksi HPV menjadi tidak bisa teratasi. Penyebab lemahnya sistem kekebalan tubuh diantara bisa disebabkan oleh menidap HIV/AIDS, sedang menjalankan kemoterapi, dan sakit

Pencegahan infeksi HPV

Hidup sehat dan rajin berolahraga adalah hal yang paling efektif untuk mencegah berbagai penyakit yang akan menyerang tubuh, begitu juga dalam pencegahan infeksi HPV, dengan gaya hidup sehat dan tidak berganti-ganti pasangan, akan menurunkan risiko seseorang untuk terinfeksi HPV.

Selain itu, ada satu cara khusus untuk mencegah infeksi HPV yaitu vaksinasi HPV. Vaksinasi ini berguna untuk melindungi dan melawan infeksi HPV, terutama HPV tipe 16 dan tipe 18 yang diketahui 70% menyebabkan kanker serviks.Vaksinasi yang berguna mencegah infeksi HPV salah satunya adalah Gardasil. Gardasil adalah jenis vaksin HPV yang sanggup melawan empat tipe HPV, diantaranya HPV tipe 16 dan tipe 18.

Vaksinasi HPV tidak hanya di berikan kepada wanita, akan tetapi vaksin ini juga di peruntukkan kepada laki-laki. Memang HPV sangat erat kaitannya dengan kanker serviks pada wanita, namun HPV tidak hanya menyebabkan kanker serviks tapi HPV juga menyebabkan kutil kelamin, kanker anus, kanker penis, dan kanker vulva pada wanita. Oleh karena itu vaksin HPV diberikan kepada laki-laki maupun perempuan.

References:
• http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs380/en/
• http://www.alodokter.com/hpv
Read More
Pencegahan kanker serviks dengan pap smear (Cervical cancer screening)

Pencegahan kanker serviks dengan pap smear (Cervical cancer screening)

Kanker serviks adalah jenis kanker nomor dua yang paling banyak menyerang wanita setelah kanker payudara, kanker serviks terjadi di saluran leher rahim wanita atau bisa juga disebut serviks, letak serviks adalah berada diantara vagina dan rahim, lebih tepatnya serviks adalah saluran yang menghubungkan antara vagina dan rahim, kegunaan saluran ini sebagai jalan masuk ke rahim dari arah luar tubuh.

Kanker serviks merupakan jenis kanker yang sangat berbahaya, tapi sangat mudah untuk dicegah. Penyebab utama kanker serviks adalah human pappiloma virus (HPV), virus ini umumnya menyerang kelamin pria maupun wanita, butuh waktu yang cukup lama untuk HPV dari pertama menginfeksi sampai menjadi kanker serviks.

Sekilas tentang kanker serviks

Menurut data WHO, setiap tahunnya terdapat 490.000 kasus baru kanker seviks, dan sebagian dari jumlah tersebut sekitar 270.000 dinyatakan meninggal dunia karena kanker serviks. Kanker serviks adalah kanker yang terjadi di leher rahim, jenis kanker ini dominan disebabkan oleh virus HPV, dan jarang sekali kasus kanker serviks yang di sebabkan oleh faktor keturunan.

Virus HPV sebagai penyebab utama kanker serviks, HPV merupakan virus yang sangat umum di dunia, virus ini umumnya menginfeksi kelamin wanita maupun pria, seseorang bisa saja terinfeksi lebih dari satu kali dalam hidupnya. Human pappiloma virus (HPV) memiliki lebih dari 100 tipe, namun hanya beberapa tipe saja yang menyebabkan kanker serviks, tipe HPV yang paling sering menyebabkan kanker serviks adalah tipe 16 dan tipe 18, persentase kanker serviks yang disebabkan oleh kedua tipe HPV ini sekitar 70%.

Gejala kanker serviks yang umumnya terjadi, tidak terjadi gejala apapun pada kanker serviks tahap awal. Kanker serviks baru menunjukan gejala ketika kanker serviks sudah mencapai stadium lanjut, umumnya gejala yang timbul antara lain, keluarnya darah ketika berhubungan dengan pasangan, keputihan abnormal, pendarahan di luar fase menstruasi dan sesudah menopause.

Pencegahan kanker serviks

Mencegah lebih baik dari pada mengobati, kata-kata ini sangat sering kita dengar, bahkan anda mungkin pernah mengatakannya? Tapi pencegahan kanker serviks tidak hanya lebih baik, akan tetapi pencegahan kanker serviks juga lebih mudah dari pada mengobati pasien kanker serviks.

Pencegahan kanker yang paling efektif adalah dengan menjalankan hidup sehat serta menjauhi faktor resiko yang menjadi pemicu terjadinya kanker. Pada kanker serviks sendiri, yang menjadi penyebab utama terjadinya kanker serviks adalah infeksi virus HPV, maka pencegahan yang paling efektif untuk menghindari kanker serviks dengan jalan memperkecil kemungkinan terinfeksi HPV dengan tidak berganti-ganti pasangan, menjaga kebersihan organ intim, dan menggunakan kondom agar kontak langsung kulit kelamin bisa diminimalisir.

Lantas, bagaimana cara mengetahui infeksi HPV? Pada tahap awal infeksi HPV tidak menimbulkan gejala sama sekali, untuk mengetahui ada tidaknya infeksi HPV dalam organ reproduksi perempuan, dunia kesehatan menggunakan metode screening, screening kanker adalah mendeteksi sebuah kanker sebelum kanker itu menunjukkan gejala, untuk kanker serviks sendiri screening yang populer dilakukan adalah pap smear.

Apa itu pap smear? Dalam pencegahan kanker serviks wanita harus rutin melakukan pap smear setidaknya satu tahun sekali. Pap smear adalah pemeriksaan sel-sel serviks dengan bantuan mikroskop atau alat sejenis. Tujuan dilakukannnya pap smear adalahh mengetahui bagaimana bentuk sel-sel di bagian serviks, apakah ada sel-sel serviks yang abnormal yang bisa menjadi kanker serviks.

Sebenarnya terdapat cara lain screening kanker serviks antara lain, dengan inspeksi asam asetat (IVA) langsung ke area serviks, tes HPV atau HPV DNA genotiping, dan pap smear baik dengan pap smear konvensional ataupun pap smear berbasis cairan.

References:
• https://id.wikipedia.org/wiki/Kanker_leher_rahim
• http://www.republika.co.id/berita/humaira/sana-sini/14/05/07/n56lq3-tiga-cara-skrining-kanker-serviks
Read More
Jenis kanker yang sering terjadi pada lansia (Lanjut usia)

Jenis kanker yang sering terjadi pada lansia (Lanjut usia)

Pada usia lanjut seseorang lebih rentan terkena penyakit kanker dan juga penyakit lainnya, hal ini disebabkan karena pada usia lanjut metabolisme tubuh cenderung menurun yang berakibat turunnya kekebalan tubuh yang berperan aktif melawan bibit penyakit yang tanpa sengaja ataupun diam-diam masuk kedalam tubuh. Selain faktor fisik, faktor psikologi lansia juga ikut mempengaruhi rentannya lansia terjangkit kanker, pada lansia emosi cenderung meledak-ledak tak terkontrol akibat tidak stabilnya hormon karena menopause.

Selain itu, pada usia lanjut resiko penyakit kanker akan meningkat karena kanker tumbuh dan berkembang memerlukan waktu yang cukup lama dan seseorang akan sadar bahwa penyakit kanker tumbuh dan bekembang dalam tubuhnya ketika penyakit kanker tersebut telah menimbulkan gejala, dan itu terjadi di usia-usia lanjut karena sebagian kanker tidak menimbulkan gejala sama sekali di stadium awal dan baru memunculkan gejala pada stadium lanjut bahkan stadium akhir.

Berikut beberapa jenis kanker yang umum diderita oleh lansia, yang mungkin bisa dicegah bila kita menerapkan hidup sehat dan olahraga teratur sejak muda. Minimal, bila kita teratur menjalankan pola hidup sehat sejak dini, apabila di usia lanjut terdiagnosa kanker, tubuh akan lebih siap dan recovery setelah treatment kanker menjadi lebih mudah dan cepat.

Jenis - jenis kanker yang sering terjadi pada usia lanjut

Kanker pada manula cukup beragam, rata-rata kanker justru menyerang kalangan manula karena selain metabolisme tubuh yang turun dan faktor kekebalan tubuh, faktor gaya hidup serta lingkungan berperan serta mempengaruhi terjadinya kanker pada manula, apabila seseorang pada saat muda gaya hidupnya buruk seperti merokok, kelebihan berat badan, kurang olahraga, dan sebagainya, menyebabkan faktor resiko seseorang terkena kanker menjadi meningkat.

Faktor resiko terjadinya kanker pada seseorang terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal, mutasi gen, pola hidup, aktivitas fisik, lingkungan tempat tinggal sampai infeksi virus tertentu merupakan faktor resiko yang umum terjadi di masyarakat.

Gejala yang timbul pun sangat bervariasi, umumnya kanker lansia ataupun kanker yang terjadi di usia dini dan kanker dewasa, menyebab mual, muntah, pusing, dan segian kanker menimbul benjolan yang terlihat oleh mata maupun bersembunyi di balik lapisan kulit dan daging.

Pada umumnya jenis kanker berikut sangat sering ditemukan pada seorang lansia, walaupun hampir semua jenis kanker rentan menyerang lansia dan golongan umur lainnya, jika faktor resiko dan gaya hidup seseorang memang bersinggungan langsung dengan penyakit kanker.

1. Kanker payudara. Jenis kanker ini sangat sering ditemukan pada lansia, namun jarang ditemukan pada seseorang berumur di bawah 30 tahun. Kanker payudara adalah jenis kanker nomor dua yang paling banyak menyebabkan kematian pada wanita, setelah kanker paru-paru.

Kanker payudara bisa menyerang wanita maupun pria, setiap tahun terdapat 2.300 kasus baru kanker payudara pada pria dan 230.000 kasus baru setiap tahunnya kanker payudara pada wanita.

Gejala yang sering ditimbulkan oleh kanker payudara antara lain, terdapat benjolan disekitar payudara, kulit pembungkus payudara kemerah-merahan dan berkerut, keluar cairan asing (bukan ASI) dari puting payudara, dan payudaran berubah bentuk menjadi tak proporsional.

2. Kanker serviks. Sebenarnya kanker serviks bisa dideteksi dengan mudah dengan rajin melakukan screening kanker serviks, pap smear. Kanker serviks adalah jenis kanker yang berkembang di saluran leher rahim wanita (serviks).

Pada umumnya kanker serviks disebabkan oleh Human Pappiloma Virus (HPV), perkembangan virus HPV sampai menjadi kanker serviks cukup lambat, berkisar antara 10-20 tahun, oleh karena itu kanker serviks cukup sering ditemukan pada wanita yang lanjut usia.

Kanker serviks tidak menyebabkan gejala apapun pada tahap awal, gejala kanker serviks baru timbul, ketika sudah memasuki stadium lanjut, adapun gejala kanker serviks yang sering timbul, pendarahan ketika berhubungan intim, nyeri pinggul, pendarahan diluar fase menstruasi atau setelah menopause, keputihan abnormal, dan nyeri kelamin.

3. Kanker prostat. Kebanyakan kanker prostat tumbuh secara lambat dan tidak menyebar, bisa saja pria yang terlihat sehat dan bugar, berkembang sel-sel prostat dalam tubuhnya karena pada tahap awal kanker prostat tidak memiliki gejala sama sekali, bahkan sel-sel kanker prostat bisa nonaktif selama bertahun-tahun di dalam tubuh pria, tanpa menimbulkan gejala sedikit pun.

Karena prostat adalah termasuk ke dalam alat reproduksi pria, gejala yang timbul karena kanker prostat tidak jauh-jauh dari situ seperti disfungsi ereksi, sulit buang air kecil, nyeri ketika buang air kecil, dan urine pasien kanker prostat biasanya bercampur bercak darah dan sperma.

4. Kanker kolon dan rektum. Umumnya jenis kanker ini terjadi pada seorang lansia, tetapi semua golongan umur tetap memiliki resiko untuk terserang kanker kolon. Kanker kolon adalah jenis kanker yang terjadi pada usus besar. Sedangkan kanker rektum adalah kanker yang menyerang saluran paling akhir dari usus besar (rektum).

Awal kanker kolon dan kanker rektum hanya berupa polip, apabila polip ini tidak teratasi dan terus berkembang, lama-kelamaan polip-polip yang bersarang di usus besar akan menjadi kanker yang ganas dan bisa menyebar ke organ tubuh lain melalui saluran darah dan kelenjar getah bening.

Gejala yang timbul akibat kanker kolon dan kanker rektum antara lain, terdapat bercak darah pada feses, diarea dan/atau sembelit, tidak bisa buang air besar secara tuntas, dan terasa tidak nyaman pada perut.

5. Kanker paru-paru. Jenis kanker ini merupakan kanker pembunuh nomor satu, baik pada pria maupun pada wanita. Perokok aktif merupakan seseorang yang memiliki resiko paling tinggi terserang kanker paru-paru, semakin lama seseorang merokok, semakin banyak pula rokok yang dihabiskan, semakin besar pula resiko seseorang terserang kanker paru-paru.

Gejala yang timbul karena kanker paru-paru adalah bantuk menahun atau batuk yang tidak kunjung sembuh, batuk disertai bercak darah, sesak nafas, nyeri dada, dan gejala kanker umum seperti mual, muntah, kepala pusing, dan menurunnya berat badan.

6. Kanker kulit. Biasanya kulit yang mengalami kanker kulit adalah kulit yang langsung terpapar oleh sinar matahari, terdapat tiga jenis tipe dari kanker kulit, pertama melanoma, kedua basal cell carcinoma, dan squa cell carcinoma.

Umumnya gejala yang timbul karena kanker kulit adalah perubahan pada ukuran, warna, bentuk, dan teksture pada tahi lalat atau kulit tumbuh lainya.

Reference:
•Mayo Clinic
•American Cancer Society
Read More