Pasien kanker: Pengalaman Pribadi menjadi Survivor Kanker Otak

Pasien kanker: Pengalaman Pribadi menjadi Survivor Kanker Otak

Survivor kanker - Disaat saya menginjak kelas tiga SMA gejala kanker begitu saja menghampiri, akan tetapi sebelumnya saya tidak tahu bahwa itu tanda kanker, disebabkan gejalanya sangat umum sekali. Untuk mengatasi ketidaktahuan itu, saya berkonsultasi dengan dokter di sekolah, rumah, dan dimanapun karena saya tidak langsung menemukan inti masalah yang sedang saya alami, meskipun sudah mendatangi beberapa dokter.

Sampai pada suatu titik tubuh ini tidak kuat hari menahan masalah yang berlarut-larut, dan saya masuk UGD rumah sakit. Dan dari sini juga saya mengetahui bahwa saya mengalami kanker dan di rumah sakit yang sama, saya melanjutkan dengan terapi pengobatan serta operasi.

Setelah operasi saya harus menerima kenyataan bahwa saya lumpuh, tetapi saya tetap bersyurukur 'sementara' bisa lolos dari kanker dan menjadi survivor kanker. Karena sejati kanker ialah penyakit seumur hidup, dan kapan saja bisa menyapa kita lagi.


Saya sempat merasakan betapa sakit, frustasi, dan bingungnya seorang pasien kanker. Saya adalah mantan pasien kanker otak, entah sel-sel kanker dalam tubuhku sudah musnah ataupun masih berkembangbiak dengan subur di otak, tetapi yang jelas aku tidak lagi merasakan sakit yang luar biasa yang aku rasakan seperti dulu, setelah dua kali operasi, pemasangan alat bantu dan pengangkatan tumor.

Pertama kali gejala terasa.

Awal saya merasakan gejala kanker ketika masih berada di bangku SMA, sebetulnya saya tidak "ngeh" dengan tanda awal gejala kanker ini dikarenakan gejala yang saya alami sangat umum sekali, pertama-tama tidak begitu ada nafsu makan, hal itu mungkin lumrah akan tetapi ketika aku "memaksakan" untuk makan, bukan malah terasa kenyang yang saya dapat, namun makanan justru terasa mengaduk-aduk isi perut dan muntah.Tidak hanya berhenti sampai disitu, semakin hari mual dan muntah ini seakan semakin menjadi-jadi, bahkan rasa pening dan pusing melengkapi kemudian, memang rasa pening dan pusing tidak begitu nyeri, hanya sekedar pusing biasa, tetapi hal ini cukup mengganggu mengingat mual dan muntah yang aku alami belum menunjukkan tanda membaik.

Dikarena saya merasa ada sesuatu ketidak-wajaran dan kondisi tubuh semakin memburuk, akhirnya memutuskan untuk memeriksakan ke dokter. Pertama kali pergi ke dokter hanya didiagnosa gangguan maag atau gangguan lambung biasa, karena memang gejala yang muncul hanya sekedar mual-muntah dan sedikit pening di kepala, oleh karena itu dokter hanya menyarankan minum obat maag, makan teratur, dan istirahat cukup saja. Setelah beberapa saat bedrest dan libur dari aktivitas sekolah, keadaan semakin membaik dari waktu ke waktu sampai pada titik cukup kuat dan nyaman untuk beraktivitas kembali, kegiatan bersekolah pun, aku lanjutkan dan kebetulan juga aku berada dikelas 3 SMA serta sedang getol-getolnya belajar untuk menghadapi ujian nasional.

Saat hari awal masuk sekolah semua baik-baik saja seperti yang diharapkan, akan tetapi setelah beberapa hari, rasa mual dan muntah kembali datang, diikuti rasa pening persis seperti sebelumnya. Kejadian seperti ini muncul beberapa kali yaitu setelah istirahat dirumah keadaan membaik, namun setelah kembali beraktivitas bersekolah, keadaan kembali memburuk seperti sebelumnya. Aku pikir ini mungkin karena saat beraktivitas, pola makan dan istirahat menjadi kurang maksimal, sehingga daya tubuh menurun dan penyaki maag-nya kambuh lagi.

Sempat beberapa kali keadaan tubuh membaik kemudian memburuk saat digunakan beraktivitas, sampai akhirnya rawat inap di puskesmas karena rasa capek dengan keadaan yang tak tentu dan tubuh semakin kesini semakin lemah, siapa tahu dengan perawatan yang lebih intensif bisa mengatasi masalah ini. Ketika rawat inap di puskesmas aku mendapat asupan tambahan dari infus dan cek darah untuk memastikan penyakit. Tapi, masih tetap sama dokter masih mendiagnosa dengan penyakit maag, dan ditreatment dengan obat lambung. Setelah merasa tubuh membaik dan ada indikasi sembuh, saya memutuskan untuk pulang ke rumah dan melanjutkan perawatan dan istirahat sampai dirasa kuat untuk melakukan aktivitas di sekolah kembali.

Kejadian keluar-masuk rumah sakit untuk rawat inap atau rawat jalan juga cukup sering terjadi selama sakit, mengingat sakit ini seperti seakan sembuh kemudian kambuh lagi dengan keadaan yang lebih "parah" dari sebelumnya, sempat juga terasa mau pingsan saat berada di sekolah, karena mungkin kurang nutrisi akibat terlalu sering muntah, sehari bisa tiga kali lebih, padahal makannya tidak pernah bisa genap tiga kali sehari. Sampai ending-nya, tidak masuk sekolah (lagi) sebab badan demam, kepala pusing, dan tubuh lemes, pokoknya campur-aduk jadi satu dan masuk ke UGD rumah sakit.

Operasi pertama: Pemasangan alat bantu, VP Shunt

Setelah dirawat beberapa saat di ruang UGD rumah sakit dan melakukan ct-scan kepala dan dada, diketahui ada sebuah tumor di dekat batang otak, kemudian dipindahlah aku ke ruang perawatan untuk rawat inap. Setelah beberapa hari "menginap" di rumah sakit, dokter menyarankan untuk operasi pemasangan alat bantu, VP Shunt, karena tumor yang bersarang dikepalaku, menghasilkan cairan yang sebetulnya cairan ini tidak berbahaya bagi tubuh, namun bila terus-menerus dijejali cairan, tekan di dalam kepala akan meningkat yang berefek organ-organ yang berada didalamnya akan terdesak dan menyebabkan pusing yang sangat.

Ketika pertamakali dokter menyarankan operasi, yang tahu adalah keluarga, sementara saya sendiri tidak tahu dan tidak-mau-tau? Sebenarnya bukan tidak mau tahu sepenuhnya, sejak kemarin kepalaku langsung pusing ketika di buat bangun dan berpikir, kata dokter sih karena saat duduk atau berdiri tekanan dikepala akan meningkat, nah ini dia yang membuat pusing karena tekanan meningkat secara otomatis organ-organ yang berada dikepala akan terdesak, akibat rongga kepala terisi cairan yang dihasilkan tumor. Kalau seandainya, kelebihan cairan ini terjadi saat tulang terkorak masih lunak (saat bayi), maka akan terjadi Hidrosefalus.

Awal keluargaku menolak penawaran prosedur operasi dan memilih untuk menstabiltan kondisi tubuhku kemudian berobat secara herbal (tanpa operasi), akan tetapi yang "ngeyel" operasi malah diriku sendiri. Kenapa saya ingin operasi saat itu? Saya sendiri tidak begitu paham dengan diri sendiri, keinginan itu spontan saja, di dalam pikiranku hanya ingin cepat sembuh. Mungkin juga karena saat "mencari" penyakit dulu, saya sudah trauma dan capek duluan sehingga ingin cepat-cepat mengakhirinya dan melakukan kegiatan normal seperti sebelumnya.

Singkat cerita, tibalah saat operasi. Sehari sebelum prosedur operasi dilakukan, terlebih dahulu rambut dipotong habis oleh perawat, dan dokter anestesi melakukan percobaan obat, apakah aku ada alergi dengan obat bius atau tidak. Setelah semua persiapan sebelum operasi telah dilakukan, saatnya menuju ke ruangan operasi. Dengan bantuan mbak dan mas-mas perawat, saya "dibawa" menuju ke ruangan operasi untuk menjalankan prosedur pemasangan alat bantu VP Shunt, yang fungsi utamanya mengalirkan cairan kepala yang berlebih menuju ke lambung.

Alhamdulillah operasi pemasangan VP Shunt pun berhasil dilakukan, meski sempat dipending dan dibatalkan sampai kurang lebih tiga kali karena ada seorang dokter yang meninggal dunia. Setelah operasi, tidak diperbolehkan makan sampai kondisi lambung dan alat pencernaan lainya kembali normal dan hal tersebut ditandai dengan sudah bisa keluar angin (kentut). Saat masa pemulihan di rumah sakit, sempat terjadi pendarahan di kepala, tapi untung perawat bisa mengatasinya dan akhirnya beberapa hari kemudian aku sudah diperbolehkan pulang.

Operasi kedua: Pengangkatan tumor.

Setelah beberapa hari memulihkan diri di rumah, sudah saatnya jadwal kontrol ke dokter untuk mengetahui perkembangan tubuh sekaligus mengecek keadaan luka bekas operasi dan melepaskan perban + jahitan apabila luka bekas operasi sudah benar-benar kering. Saat kontrol dokter untuk pertamakali, aku belum begitu fit, jalan masih terasa berat tetapi alhamdulillah pusing sudah pergi dari kepala, ketika kontrol dokter hanya melihat-lihat dokumen riwayat penyakit dan sesekali bertanya pada pasien kanker (saya), sementara yang melakukan eksekusi perawatan bekas operasi adalah perawat dan dokter hanya memberi intruksi saja.

Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba pusing, mual, dan muntah hadir kembali akan tetapi sangat jauh berbeda dengan kondisi diawal, sekarang pusing yang terjadi nyeri sekali dan muntah seperti menyemprot, alhasil aku menjadi kebingungan dan serba salah, makan agak banyak muntah tetapi kalau hanya makan sedikit laper dan tidak bisa tidur, belum lagi kepala pusing sekali seperti mau pecah. Dengan kembalinya sang "problem" saya memutuskan untuk memeriksakan ke dokter specialis syaraf, dokter yang memeriiksa mengatakan bahwa, operasi yang kemarin dilakukan hanya mengatasi kelebihan cairan yang dihasilkan tumornya saja, sementara tumor masih utuh belum tersentuh sama sekali dan si tumor tidak bisa menghilang sendiri dan akan terus tumbuh walaupun sangat lambat.

Setelah diperiksa dan diwawancara, dokter memberikan resep yang intinya memberikan obat anti-nyeri dan anti-mual serta merekomendasikan untuk operasi pengangkatan tumor. Setelah beberapa saat meminum obat resep dari dokter, tidak ada tanda-tanda obat bekerja dengan maksimal, yang ada malah jantung berbedar-debar dan gelisah tak tentu sebab, ternyata setelah diselidiki ternyata obat yang diresepkan oleh dokter merupakan obat dosis tinggi untuk mengimbangi sakit kepala yang sangat nyeri ini.

Karena obat dosis tinggi sudah tidak mampu lagi menandingi nyeri sakit kepala ini, aku putuskan untuk menjalani prosedur operasi pengangkatan tumor, saya menunggu cukup lama untuk "mengantri" memdapatkan giliran operasi karena saya hanya mengandalkan ASKES ( sekarang BPJS) dan tentunya dirumah sakit umum provinsi yang notabene pasiennya datang dari berbagai daerah. Selama proses penantian, mual dan pusing bisa teratasi dengan pemberian obat rutin melalui selang infus sehingga aku bisa bernafas sedikit lega karena bisa makan tanpa kwatir muntah dan kepala tidak sepusing dulu.

Akhirnya tiba juga saat yang ditunggu tunggu operasi pengangkatan tumor, sebelumnya telah dilakukan foto ronsen dan MRI, untuk memastikan posisi tumor dan cek-cek yang bersifat general seperti pemeriksaan mata, telinga, dan lainya. Singkat cerita operasi pun dimulai, skip skip skip dan kemudian aku mencoba untuk siuman akan tetapi berat sekali hanya sadar mungkin beberapa detik lalu pet kesadaran hilang lagi, mungkin obat bius belum sepunuhnya hilang, tau-tau ketika sudah mulai sandar sepenuhnya, saya sudah berada di ruang perawatan dan masing menggunakan oksigen untuk bernafas.

Operasi pengangkat tumor berhasil namun efek dari operasi sangat disayangkan, sebagian tubuhku lumpuh dan tidak bisa merasakan sentuhan sama sekali, ditambah nafasku pendek sekali dan harus menggunakan bantuan oksigen, tubuhku sebelah kiri tidak bisa bergerak sama sekali, mata merah kemudian penglihatan double parah, dan masih banyak lagi. Semua efek operasi itu didapat karena tumor berada dekat sekali dengan batang otak, pusat semua syaraf bertemu. Namun, Alhamdulillah-nya aku tidak mengalami koma dan menurut cerita beberapa hari setelah operasi, saya sudah "dikeluarkan" dari ruang ICU, yang berarti saya hanya perlu perawatan standart di ruangan.

Terus berjuang sebagai survivor kanker

Perjunganku melawan kanker sementara telah usai, namun efek yang ditimbulkan oleh operasi membuat hidupku tidak bisa mandiri, untuk mengembalikan kondisi tubuh seperti sedia kala, aku masih butuh treatment tambah yaitu rehab medik, periksaan mata dan masih banyak lagi. Sebagai hasil dari treatment tambah yang aku ikuti kurang lebih satu tahun, aku bisa kembali menggerakkan tubuh sebelah kiri, mata dan penglihatan berangsur-angsur membaik, namun aku harus menjalani hidup dengan cara baru yaitu bergantung sepenuhnya dengan kursi roda karena aku tidak bisa lagi berdiri maupun berjalan, AKU LUMPUH.
Read More